Geger! Ucapan Bos Taxi Malaysia yang Menuai Protes Dari Rekan-rekan Ojol di Indonesia

kaworlds – Sebuah dugaan penghinaan oleh seorang warga Malaysia di Kuala Lumpur tidak cocok dengan rekan-rekan pengendara dari perusahaan pengendara sepeda motor Indonesia Go-Jek.

Kali ini adalah seorang owner sebuah perusahaan taxi di Malaysia, Datuk Shamsubahrin Ismail yang menyulut api kemarahan warga Indonesia khususnya rekan-rekan pengemudi dan penumpang ojek online atau ojol dengan mengatakan menolak kehadiran Go-Jek di Malaysia karena Go-Jek adalah sebuah platform untuk masyarakat miskin ucapnya.

ucapan bos taxi malaysia menuai protes

Menurut laporan media lokal mengutip kepala nasional Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Igun Wicaksono, pengendara akan menyerahkan surat protes kepada Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Zainal Abidin Bakar dan mengancam akan berdemonstrasi di kedutaan Malaysia pada 3 September jika tidak ada permintaan maaf dari individu.

Pendiri Big Blue Taxi Services, Datuk Shamsubahrin Ismail, diduga membuat pernyataan yang dianggap menghina para pengendara Gojek dan Indonesia dengan sengaja dalam sebuah klip video yang beredar luas di Indonesia baru-baru ini. Ia pun mengatakan Go-jek ada di Indonesia karena Indonesia merupakan negara miskin yang memang pantas memakai layanan tersebut, sedangkan Malaysia tidak, karena merupakan negara kaya.

Go-Jek didirikan pada 2010 oleh Nadiem Makarim, 35, yang juga merupakan CEO saat ini untuk jaringan transportasi dan logistik yang menawarkan berbagai layanan, mulai dari naik kendaraan hingga pengiriman, serta fintech.

Baca Juga : Apa yang Terjadi Pada Ibukota Negara Indonesia ?

Pada kuartal pertama tahun 2019, aplikasi Go-Jek diunduh lebih dari 142 juta kali di Indonesia, dan saat ini memiliki lebih dari dua juta mitra pengendara.

Pada 2018, Go-Jek juga mencatat lebih dari US $ 9 miliar (RM37,8 miliar) dalam nilai transaksi bruto (GTV) di semua negara yang beroperasi, menjadikannya grup teknologi konsumen terbesar di Asia Tenggara berdasarkan GTV.

Go-Jek juga beroperasi di Singapura, Filipina, Thailand (di mana dikenal sebagai GET) dan Vietnam (sebagai GoViet).

Baru-baru ini, Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia Syed Saddiq Syed Rahman mengusulkan memperkenalkan layanan e-hailing sepeda motor di Malaysia, memicu debat publik tentang pro dan kontra soal layanan tersebut.